
Hallo! Jadi kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku ikut tes kedinasan, lebih tepatnya STIS. STIS dulunya adalah singkatan dari Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Sekarang berubah menjadi Polstat STIS (Politeknik Statistika STIS).
Ini adalah pengalamanku di tahun 2017, jadi mungkin akan ada perbedaan dengan tahapan seleksi tes masuk STIS tahun sekarang. Tapi, bagaimanapun, ini juga bisa, kok, dijadikan panduan buat kalian yang mau persiapan tes kedinasan, biar punya gambaran.
Warning: Ini bakalan panjang banget, jadi kamu bisa save dulu biar bisa kamu baca nanti pas ada waku luang.
Aku bakal pisah-pisah menjadi beberapa bagian biar lebih mudah untuk dicerna dan dipahami. Ini adalah daftar isinya.
Daftar Isi
Berapa besar keketatan masuk STIS?
Nah, mungkin buat yang belum tahu, keketatan untuk masuk STIS itu tinggi banget, guys! Ketat banget.
Waktu aku dulu tahun 2017, yang daftar aja sekitar 24.000-an. dan kuotanya berapa? Kuota STIS cuma 600 doang; 450 untuk D4 dan 150 untuk D3. Jadi, dari 16.000 pendaftar, yang diterima masuk STIS hanya 600 orang.
Tuh, coba bayangin segimana ketatnya, kan? 600:24.000 atau 1:33
Kalau aku bandingin sama keketatan buat masuk STAN, waktu itu kuota atau daya tampung STAN sekitar 7.000an. Sedangkan yang daftar sekitar 160.000 an. Keketatan STAN sekitar 1:22
Ya, hampir mirip-mirip lah. Emang keketatan persaingan buat masuk sekolah kedinasan tuh emang setinggi itu. Tapi, jangan khawatir. Nggak ada yang nggak mungkin, kok.
Kalau kamu sampai di artikel ini, minimal kamu sudah mengumpulkan niat untuk masuk ke sekolah kedinasan. Kamu sudah beberapa langkah lebih siap dari mereka yang bahkan nggak tau harus mempersiapkan dari mana.
Oiya, mungkin justru malah ada yang bingung atau belum memantapkan diri mau masuk ke STIS atau sekolah kedinasan yang lainnya. Dulu aku juga gitu, sih. Aku bingung antara pilih STAN atau STIS. Jadi, aku mau bahas sedikit perbedaannya dan kenapa akhirnya aku milih STIS.
Perbedaan STAN dan STIS

Waktu itu aku sempat galau, sih. Antara pengen masuk STIS atau masuk STAN. Ya kedua-duanya sama-sama menjanjikan. Dan … Pakaian Dinas (PDA) atau seragamnya itu sama-sama biru! Yang ini nggak penting, sih. Oke lanjut. Jadi, beberapa hal di bawah ini yang menjadi pertimbanganku untuk memilih masuk STIS dan STAN.
A. Biaya Pendidikan
Salah satu perbedaan STAN dan STIS itu terletak pada biaya yang harus ditanggung. Kalau di STAN hanya gratis biaya pendidikannya saja, tanpa uang saku. Sementara kalau di STIS, gratis biaya pendidikan dan juga dapat uang saku. Karena itulah, aku pilih STIS. Karena waktu itu juga nggak boleh nyabang, harus pilih salah satu. Padahal tahun-tahun sebelumnya boleh, setahu aku.
B. Lulusan SMA/SMK
Perbedaan yang kedua adalah, seleksi masuk STAN bisa diikuti lulusan apapun setingkat SMA, mulai dari SMA IPA/IPS, MA, SMK, semua boleh ikut. Sementara itu, seleksi masuk STIS hanya bisa diikuti oleh lulusan SMA/MA IPA saja.
C. Batasan Usia
Ada lagi, perbedaan ketiga antara STAN dan STIS terletak pada batasan usia. Di STAN, batasan umur atau usia pendaftar adalah maksimal 18 tahun. Sedangkan STIS, batasan usia pendaftar maksimal 22 tahun.
D. Jurusan
Jurusan di STIS itu ada Statistika dan Komputasi Statistik. Sedangkan di STAN ada perpajakan, manajemen, dan akuntansi. Jadi STIS itu lebih ke Statistik, kalau STAN lebih ke Ekonomi. Sama-sama menantang, kan, buat para pecinta angka?
Sebenarnya masih banyak banget, sih, perbedaan antara STAN dan STIS mulai dari yang nggak penting sampai yang krusial banget. Untuk memahami keduanya secara lebih mendalam, cek website mereka di stis.ac.id sama stan.ac.id.
Persiapan Masuk Sekolah Kedinasan (STIS)
Aku mau berbagi persiapan aku saat mau ikut seleksi tes masuk STIS dulu. Aku bakal tulis dalam poin-poin biar lebih mudah dipahami.
1. Memantapkan pilihan
Nah, seperti yang aku bilang di awal. Aku dulu bingung banget saat harus pilih STAN atau STIS. Tapi akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, aku pilih STIS. Ini penting banget. Kamu harus tahu kamu mau jadi apa, misal mau jadi ahli data/statistik atau mau jadi ahli keuangan dan perpajakan.
2. Ikut Tryout
Aku beruntung zaman dulu ada kakak-kakak dari STAN ataupun STIS yang mengadakan Try Out. Yang STAN itu di tingkat kabupaten, deketlah dari rumahku. Yang STIS, di tingkat karesidenan, jadi aku harus keluar kabupaten.
Aku ikut keduanya karena memang pada waktu itu belum memantapkan pilihan. Minimal aku tahu, lah, soal-soal seleksi STAN atau STIS itu kayak gimana.
Kalau sekarang mungkin susah, ya, karena pandemi. Aku nggak tau pas pandemi ini ada try out atau nggak. Kalau misal kamu nggak sempat ikut try out resmi dari kakak-kakaknya, kamu juga bisa cari di internet “Soal Seleksi Masuk STIS” atau “Soal Seleksi Masuk STAN”. Pasti bakal banyak banget, kok, yang bahas.
Oiya, aku dulu juga ikut try out SBMPTN, sih, cuma aku bahas lain waktu aja kali, ya, khusus SNMPTN dan SBMPTN. Karena kalau dibahas di sini bakal panjang banget.
3. Latihan fisik rutin (olahraga, lari, push-up, dll)
Nah, ini, nih, guys. Aku tahu kalau masuk ke sekolah kedinasan apapun itu pasti ketat banget. Kamu nggak cuma harus pintar, tapi juga harus sehat.
Beberapa latihan yang aku persiapkan yaitu lari tiap pagi, push up, sit up. Semuanya aku lakukan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Kalau kamu sudah sering lari, kamu bakal tahu kalau lari ini bisa dilatih. Orang yang nggak sering lari, terus tiba-tiba disuruh lari, pasti akan kecapekan banget, atau bisa-bisa malah pingsan. Nah, ini yang aku takutkan dulu. Makanya, aku mempersiapkan semuanya sesuai yang aku bisa.
4. Gabung grup (FB dan WA)
Ini juga adalah salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Aku dulu, gabung di grup facebook buat nanya-nanya hal-hal yang aku nggak paham. Dan beruntungnya, aku malah berkesempatan untuk gabung di grup Whatsapp USM STIS juga. Dan, di grup itu ada kakak-kakak STIS dan bahkan alumni STIS yang udah kerja di BPS juga! Kurang beruntung apa coba???
Di grup itu isinya macam-macam, sih. Ada yang tentang share pengalaman, kenalan, sampe belajar ngerjain soal bareng. Bahkan ada sesi sharing ketika menjelang tahapan seleksi tertentu, kayak misalnya pas menjelang tes Matematika, tes CPNS, tes Psikotes, dan tes Kesehatan.
Aku sekarang udah nggak ada grupnya. Tapi kalau kamu berniat pengen bener-bener masuk STIS, coba kamu cari-cari grup di FB. Siapa tau kamu berkesempatan untuk kenal kakak STIS juga dan bisa membuat grup WA dengan sesama pejuang STIS 2022.
5. Baca-baca pengalaman orang lain
Yang terakhir dan nggak kalah penting, aku juga suka baca-baca pengalaman orang lain. Ya, seperti yang kamu lakuin sekarang. Aku nyari-nyari tulisan pengalaman orang lain lewat blog juga. Karena menurutku hal ini efektif untuk sedikit memberiku gambaran tentang apa yang akan kuhadapi ke depannya.
Nah, setelah tahu beberapa persiapan yang mungkin akan kamu lakukan, sekarang saatnya mengetahui tahapan tes seleksi masuknya.
Tahapan seleksi masuk sekolah kedinasan (STIS)
Ini adalah pengalaman aku di tahun 2017, ya. Dulu itu tahapan tes seleksi masuk STIS ada Tes Kemampuan Dasar, Tes CPNS, Tes Psikologi, sama Tes Kesehatan.
Untuk sekarang mungkin sudah ada perubahan, mulai dari urutan tahapannya sampai substansi tesnya.
Jadi ini sekedar buat menceritakan pengalamanku pas ikut seleksi STIS dan semoga bisa menjadi gambaran untuk yang berminat masuk ke STIS juga.
1. Tes Kemampuan Dasar (TKD)
Tes tahap awal STIS dulu itu TKD. Isinya adalah tes Matematika dan Bahasa Inggris. Tapi, semenjak tahun 2017, TKD STIS hanya berisi tes Matematika saja. Tes Bahasa Inggris ditiadakan. Durasi tesnya adalah 90 menit untuk 60 soal.
2. SKD CPNS
Kalau berhasil masuk STIS emang sudah otomatis akan jadi CPNS, makanya ada Seleksi Kemampuan Dasar (SKD) CPNS. Tes CPNS terdiri dari TWK, TIU, TKP.
Tes TWK atau Tes Wawasan Kebangsaan berisi soal-soal wawasan kebangsaan seperti Pancasila, Undang-Undang Dasar, Geografi Indonesia, Sejarah, Adat dan Budaya.
Tes TIU atau Tes Intelegensia Umum berisi soal-soal matematika dasar, aljabar, barisan dan deret, tes verbal, tes analogi.
Tes TKP atau Tes Karakeristik Pribadi adalah tes yang berisi tentang motivasi dan karakteristik peserta tes. Ini hampir mirip dengan tes psikologi tapi ini adalah versi simpelnya. Contoh soalnya kayak gini:
Ketika menghadapi kegagalan dalam seleksi penerimaan CPNS. Sikap saya adalah .…
A.Merasa itu kemampuan maksimal saya.
B.Merasa diri lebih buruk dari orang lain dan tidak mau mengikuti seleksi di tahun berikutnya.
C.Membutuhkan waktu lama menyembuhkan rasa kekecewaan saya.
D.Bangkit lagi dari kekecewaan jika didukung oleh keluarga dan orang-orang terdekat.
E.Segera bangkit memperbaiki kelemahan saya untuk mempersiapkan diri mengikuti seleksi di tahun berikutnya.
Ini nggak ada jawaban benar atau salah, tapi tiap pilihan jawaban ada skornya, mulai dari 1-5. Yang jawaban terbaik skornya adalah 5.
Semua tes SKD CPNS ini nggak ada pengurangan nilai untuk jawaban salah, ya. Jadi sebisa mungkin diisi semuanya. Tetapi, ada ambang batas kelulusannya. Jadi, kamu harus mendapatkan skor sekian agar bisa lulus.
3. Tes Psikologi
Tes Psikologi STIS berisi Tes koran/Pauli/Kraepelin, Tes Kepribadian EPPS, BAUM Test/Draw a Tree/Draw a person, Tes Wartegg.
A. Tes Koran/Pauli/Kraepelin

Tes koran adalah tes yang mengasah tentang kemampuan hitung dasar kita sama kestabilan kita dalam menghadapi tekanan.
Jadi tesnya itu kita bakalan dikasih kertas berisi deretan angka. Terus kita disuruh menjumlahkan dua angka yang berdekatan. Bisa dari atas, bisa dari bawah. Kalau aku dulu dari bawah. Contoh lembar tesnya seperti ini.
Aku punya tips untuk latihan tes Koran/Pauli/Kraepelin. Kalian bisa bikin deretan angka memanjang ke bawah secara acak. Angkanya itu dari 0 sampai 9. Nah, kalian bikin di kertas A4 atau F4 terserah. Terus kalian print. Nah, jadi kalian bisa latihan pakai itu. Di sini kita dituntut untuk berhitung cepat dan nggak lemot.
Nah, untuk yang kedua, seperti yang aku bilang, yaitu untuk mengukur kemampuan bekerja di bawah tekanan.
Jadi tuh nanti akan ada instruktur yang pegang timer. Jadi kamu bakal disuruh untuk menyelesaikan satu baris pertama dan dikasih waktu biasanya 10 detik. Habis itu kamu bakal disuruh pindah ke baris berikutnya dan dikasih waktu juga.
Waktunya nggak harus 10 detik, sih. Tergantung instrukturnya. Bisa 10 detik, 15 detik, atau bahkan cuma 5 detik. Ini untuk mengetes kecepatan, ketepatan, dan kejujuran.
B. Tes Kepribadian EPPS
Tes Psikologi STIS yang kedua adalah tes kepribadian EPPS (Edwards Personal Preference Schedule).
Tes ini digunakan untuk menggali potensi dan preferensi pribadi dalam banyak hal. Isi dari tes EPPS bisa berupa yes/no question, bisa juga pilihan ganda. Contohnya seperti ini:
- Saat marah, saya akan memaki orang lain.
- Saat marah, saya akan melempar barang-barang.
Sama-sama nggak enak, sih, pilihannya, tapi kamu tetap harus memilih salah satu yang paling sesuai dengan diri kamu. Bisa juga pilihan gandanya sampai empat pilihan.
Tenang aja, nggak kayak gitu semua, kok, pilihannya. Ada juga seperti:
- Saya adalah orang yang terencana
- Saya adalah orang yang spontan
Yang paling penting adalah kamu harus jujur. Tidak ada jawaban benar atau salah. Ini hanya untuk menguji apakah kamu cocok untuk mengisi suatu posisi tertentu. Dan psikolog pasti sudah punya alat yang canggih untuk menganalisis jawabanmu. Jadi, be honest, be confident!
C. Tes BAUM/Draw a Person/Draw a Tree

Ini adalah tes dimana kamu harus menggambar pohon atau orang. Psikolog akan menilai gambarmu berdasarkan garis, arsiran, dan lain-lain. Untuk macamnya sendiri bisa Draw a Person (orang) atau Draw a Tree (pohon). Tapi waktu itu aku dapatnya yang Draw a Tree, sih. Nggak usah takut kalau kamu nggak pinter nggambar. Yang dinilai bukan bagus atau enggaknya gambar kamu. Tapi lebih ke potensi dan kepribadian yang tertuang dari cara menggambarmu. Lagi-lagi, be confident, ya!
D. Tes Warteg
Bukan warung, ya. Tes Wartegg juga masih tentang menggambar juga. Ini adalah bentuk Tes Wartegg yang diambil dari “Buku Babon Sukses Tes TNI Polri” (kumparan.com).

Di tes ini, kamu harus menggambar sesuatu dari yang awalnya adalah titik atau garis. Berikut ini contoh gambarnya.

4. Tes Kesehatan
Nah untuk rangkaian tes masuk STIS selanjutnya adalah Tes Kesehatan. Karena aku nggak sampai lulus di tahap ini *aku cuma sampai tahap psikotes :(, jadi aku kurang paham apa aja yang menjadi perhatian dalam tes kesehatan. Mungkin medical check up secara general aja kali, ya. Tapi yang pasti, di STIS itu nggak boleh buta warna total ataupun parsial. Kalau minus boleh, kok. Banyak juga kakak-kakak STIS yang berkacamata. Dan yang penting nggak ada penyakit berat macam TBC, dan lain sebagainya.
Ada satu lagi yang menarik dari Tes Kesehatan sekolah kedinasan. Kalau di STAN dulu itu ada tes lari juga, ya, guys. Tapi kalau di STIS kayanya enggak deh. Tapi akan lebih baik kalau kamu juga mempersiapkan buat jaga-jaga. Seperti yang aku tulis di bagian persiapan, aku dulu rutin latihan lari tiap pagi. Buat jaga-jaga aja biar kuat pas disuruh lari nanti.
Nah, kayaknya itu aja, sih, yang bisa aku bagikan kali ini. Semoga bisa menjadi gambaran buat yang mau ikut tes masuk STIS. Panjang banget ya 😃
Kalau ada pertanyaan juga boleh banget buat ditulis di kolom komentar. Dan terakhir, terima kasih sudah membaca, dan selamat berjuang untuk para pejuang STIS 2022!
Leave a Reply